OPINI

 

INTEGERASI BUDAYA LOKAL DENGAN MATERI KIMIA KELAS XII SEMESTER 1

A.   Tradisi Memandikan Pusaka Di Bulan Suro

Ada banyak mitos mengatakan, memandikan pusaka di bulan Sura mengandung hal-hal yang mistis. Namun apakah Anda tahu bahwa memandikan pusaka di bulan Sura justru menjadi salah satu upaya manusia untuk melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri?

Di salah satu pendopo hotel di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (22/11), tampak puluhan orang menyaksikan dengan saksama tradisi “jamasan pusaka”. Mereka tampak serius mengamati seorang ahli keris yang tengah membersihkan keris dengan perasan air jeruk nipis. Ada yang mengangguk-anggukkan kepala seperti baru saja mendapat suatu hal yang baru. Sementara, ada pula yang terus melontarkan pertanyaan kepada ahli keris itu.

Sesepuh Pemerhati Keris Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sumowijoyo menjelaskan, jamasan pusaka merupakan tradisi turun-temurun yang harus dilakukan di bulan Sura. Pusaka seperti keris, tombak, bagi orang Jawa bukanlah pusaka biasa karena tidak dibuat sekadarnya, melainkan dengan laku yang berbagai macam. Seperti zaman Sultan Agung, karena dibuat dari seorang Empu maka  pusaka mendapatkan tempat istimewa seperti simbol status, senjata tikam, tanda jabatan.

KRT Sumowijoyo menjelaskan bahwa, memandikan keris tak sekadar untuk mengawetkan atau mempercantik keris. Memandikan keris berarti melakukan ritual membersihkan diri. Orang yang memandikan akan merefleksikan bahwa membuat keris tidaklah mudah. Dalam hal ini dibutuhkan doa dan spirit yang kuat, kesabaran, ketelitian, dan pantang menyerah. Nilai-nilai inilah yang akan diilhami oleh orang yang memandikannya.

Keris pun memiliki banyak filosofi kehidupan. Bagian-bagiannya seperti pesi (pegangan keris), gonjo, tikel alis, pijetan, greneng, bercerita tentang kehidupan manusia. Di antaranya manusia perlu memiliki pegangan dalam hidupnya, manusia perlu mempertimbangkan segala perbuatan, perlu adanya musyawarah bersama, memiliki jiwa yang bersih.

 

Cara memandikan keris

Pemerhati keris lainnya, Deni Ekasusila menjelaskan, ada dua cara menyirami pusaka yakni dengan direndam atau dicelup, serta di-koloh atau dikuaskan. Bahan yang digunakan seperti batu warangan atau arsen, air jeruk nipis, sabun colek, dan minyak pusaka. Sedangkan  alat- alat yang diperlukan adalah telawah atau blandhongan, sikat yang halus, kain pel yang mudah menyerap air, dan ember.

Pusaka yang kotor dan berkarat direndam terlebih dahulu dengan air kelapa. Baru setelah itu dibersihkan  dengan jeruk nipis yang telah dibelah dan dicampurkan dengan sabun colek. Setelah terlihat menjadi putih, pusaka disiram air dan disikat berulang kali sampai air tidak mengeluarkan buih. Kemudian dipel dan dijemur di sinar matahari. ”Kalau tidak kotor banget, satu sampai dua jam jamasan sudah selesai,” kata Deni.

 

Pembahasan Yang berkaitan dengan materi Reaksi Redoks dan Elektrokimia

Perendaman Pusaka yang kotor dan berkarat dengan menggunakan air kelapa muda bertujuan untuk menghilangkan karat. Air Kelapa Hijau bersifat asam lemah dan bermanfaat untuk melepaskan kotoran, kerak, dan mempermudah lepasnya karat yang terbentuk dipermukaan keris. Karena sifat asamnya yang lemah diperlukan perendaman semalaman agar betul2 meresap dan dapat melepaskan kotoran terutama yang terdapat di pori2 logam. Sifat itu pula yang membuatnya relatif aman untuk keris.

Menggosok permukaan keris dengan irisan jeruk nipis sampai bersih / putih mengkilap. Jeruk Nipis sifat asamnya agak kuat, persentuhan dengan logam keris dalam jangka waktu yang lama dapat merusak logam keris. Digunakan untuk membersihkan keris dari karat, buah jeruk nipis diiris 4-6 bagian dan digosok2 pada permukaan keris. Hasilnya kotoran dan karat akan terlepas dan permukaan keris akan kelihatan putih mengilap. Proses ini disebut Mutihke’.

Mengolesi keris dengan minyak (minyak’i) secara tipis dan merata menggunakan kuas Dalam meminyaki, jangan sampai keris terlalu basah. Minyak yang digunakan dalam meminyaki keris tidak dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang menghuni keris tersebut. Melainkan sebagai pelindung tambahan, diluar lapisan warangan, yang mengisolasi bilah pusaka dari kontak dengan udara. Seperti yang diketahui karat atau korosi muncul akibat reaksi logam, oksigen, dan air. Udara yang lembab di daerah tropis seperti di Indonesia (kelembaban 70-90%), mengandung uap air yang tinggi kadarnya sehingga meningkatkan resiko korosi. Namun bila logam diisolasi agar tak bersentuhan langsung dengan udara dengan cara dilapisi minyak, maka resiko korosi dapat dicegah

foto-di-balik-tradisi-memandikan-pusaka-di-bulan-sura keris-2

 

 

B.   Pembuatan Es dung-dung / es puter

Sifat koligatif larutan adalah sifat-sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya bergantung pada konsentrasi partikel terlarutnya. Sifat koligatif larutan di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu 1) penurunan tekanan uap jenuh 2) kenaikan titik didih 3) penurunan titik beku 4) tekanan osmosis.Salah satu penerapan sifat koligatif adalah dalam pembuatan es krim. Dalam hal ini, yang kami lakukan adalah pembuatan secara manual yaitu menggunakan media yang sederhana dengan cara yang sederhana.Selain itu, pembuatan es krim ini dapat menambah pengetahuan dan menjadikan kita kreatif dan dapat menjadi prospek masa depan untuk menambah penghasilan.

Es puter merupakan salah satu es krim legendaris yang paling popular di Indonesia. Es krim yang satu ini juga biasa disebut es dung-dung karena biasanya penjual yang menjajakannya membunyikan suara dung-dung dengan gong. Es krim yang berbahan dasar santan kelapa ini biasanya disajikan dalam berbagai macam warna oleh penjualnya sehingga mempercantik tampilan es krim yang lezat ini. Namun sayangnya seiring berkembangnya zaman, banyak pedagang es puter “nakal” yang menjajakan jualannya. Mereka menambahkan pewarna sintetis kedalam bahan pembuat es puter sehingga sangat berbahaya untuk dikonsumsi.

 CARA KERJA :

  1. Pertama-tama campur dan aduk semua bahan susu dan air sambil dipanaskan diatas api kecil.
  2. Kemudian cairkan tepung maizena dan campurkan dengan adonan diatas.
  3. Setelah itu sambil tetap mengaduk, angkat adonan dari atas api, campurkan dengan gula, putih telur dan vanili, lalu aduk terus sampai adonan berwarna putih.
  4. Rebus adonan sambil terus diaduk-aduk hingga mendidih.
  5. Angkat adonan dari atas api sambil terus diaduk hingga dingin agar adonan tidak    menggumpal.
  6. Letakkan adonan di dalam kaleng yang sedang
  7. Letakkan es batu dan garam ke dalam kaleng yang besar
  8. Letakkan kaleng yang sedang di tengah kaleng yang besar yang dikelilingi es batu
  9. Tutup kaleng yang sedang dengan penutup, dan putar-putar kaleng tersebut
  10. Putar kaleng tersebut hingga adonannya menjadi es krim

Pembahasan yang berkaitan dengan materi Sifat-sifat Koligatif Larutan (Penurunan Titik Beku)

Beberapa saat diputar, terlihat gumpalan es-es kecil terlihat di bagian luar kaleng, dan es mulai mencair dan menyatu dengan garam. Ketika es di campur dengan garam, sebagian membentuk air garam dan es secara spontan terlarut dalam air garam, akibatnya air garam semakin banyak. temperatur yang di perlukan adalah minus tiga derajat celsius atau lebih rendah.
Di dalam segumpal es, molekul molekul air terstruktur membentuk tatan geometrik yg tertentu dan kaku. Tatanan kaku ini rusak ketika di serang oleh garam, maka molekul molekul air selanjutnya bebas bergerak kemana mana dalam wujud cair. Tetapi merusak sturktur pada molekul molekul es memerlukan energi, sama seperti yang di perlukan untuk meruntuhkannya sebuah bangunan. Untuk sebongkahan es yg hanya kontak dengan garam dan air, energi itu hanya dapat di peroleh kandungan panas dalam air garam. Maka, menurunkan temperaturnya, Setelah temperatur dingin ini tercapai dalam pemanfaatan campuran itu mendapatkan panas pengganti dari adonan es krim.

Dalam pembuatan es krim terdapat keterkaitannya dengan sifat kalogatif larutan, dan dalam pembuatan es krim dapat menggunakan alat dan bahan yang sederhana, dan kualitas dan rasa es krim dipengaruhi oleh bahan dan lama pemutaran kaleng.

es-puter-3 es-puter

 

C.   Pembuatan Telur asin

Usaha pengawetan telur sangat penting untuk mempertahankan kualitas telur ayam & bebek. Salah satu penyebab kerusakan telur adalah karena terjadinya pertumbuhan pada mikroba pada telur tersebut. Supaya telur menjadi lebih awet, maka dilakukan proses pengawetan. Tujuan pengawetan telur adalah untuk mengurangi jumlah awal sel jasad renik didalam telur, memperpanjang fase adaptasi semaksimum mungkin sehingga pertumbuhan mikroba diperlambat, memperlambat fase pertumbuhan logaritmik , dan mempercepat fase kematian mikroba.

Prinsip pengawetan telur adalah untuk :

  1. Mencegah masuknya bakteri pembusuk ke dalam telur;
  2. Mencegah keluarnya air dari dalam telur.

Cara pembuatan telur asin dengan menggunakan adonan garam akan menghasilkan telur asin yang jauh lebih bagus mutunya, warna lebih menarik, serta cita rasa yang lebih enak. Garam berfungsi sebagai pencipta rasa asin dan sekaligus bahan pengawet karena dapat mengurangi kelarutan oksigen (oksigen diperlukan oleh bakteri), menghambat kerja enzim proteolitik (enzim perusak protein), dan menyerap air dari dalam telur. Berkurangnya kadar air menyebabkan telur menjadi lebih awet karena air digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan. Pada umumnya konsentrasi garam 10-15% sudah cukup untuk membunuh sebagian besar jenis, kecuali bakteri halofilik yaitu bakteri yang tahan terhadap garam yang tinggi seperti Staphylococcus aureus, yang dapat tumbuh pada larutan garam 11-15%, bila pH nya 5-7.

Menurut Sukendra (1976), untuk menghasilkan telur asin yang memiliki karakteristik disukai diperlukan waktu 12 hari pengasinan. Menurut  Kautsar (2005), proses pengasinan telur memerlukan waktu selama 15 – 30 hari. Sedangkan proses pengasinan dengan larutan garam jenuh memerlukan waktu sekitar 7 – 10 hari. Lama waktu proses tersebut masih menjadi permasalahan yang harus dipecahkan, karena selain lama perendaman erat kaitannya dengan efisiensi waktu proses pengasinan telur, juga erat kaitannyadengan karakteristik organoleptik telur asin yangdihasilkan. Kulit telur ayam yang lebih tipis jika dibandingkan kulit telur bebek membuat garam lebih mudah masuk ke dalam telur ayam jika dibandingkan ke dalam telur bebek, sehingga untuk telur ayam seharusnya perlu menggunakan waktu selama yang waktu yang digunakan untuk pengeraman telur bebek.

 Pembahasan Yang Berkaitan dengan Sifat-Sifat Koligatif Larutan (Tekanan Osmotik)

Pengasinan telur umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu perendaman dalam larutan garam dan pemeraman oleh adonan campuran garam dengan tanah liat, atau abu gosok atau bubuk bata merah Prinsip kedua cara tersebut adalah dehidrasi osmosis, yaitu proses pengurangan air dari bahan dengan cara membenamkan      bahan   dalam suatu     larutan ber- konsentrasi tinggi, larutan tersebut mempunyai  tekanan osmosis tinggi. Dehidrasi osmosis (osmotic dehydration) merupakan proses perpindahan massa secara simultan (countercurrent flows) antara keluarnya air dari bahan dan zat terlarut berpindah dari larutan ke dalam bahan. Perpindahan massa osmosis dinyatakan sebagai kehilangan air (WL,water loss) dan penambahan padatan, SG, solid gain). Aplikasi dehidrasi osmosis dalam proses pengasinan, terlihat dengan keluarnya air dari dalam telur bersamaan dengan masuknya larutan garam ke dalam telur.

Garam (NaCl) akan masuk ke dalam telur dengan cara merembes melalui pori-pori kulit, menuju ke bagian putih, dan akhirnya ke kuning telur. Garam NaCl mula-mula akan diubah menjadi ion natrium (Na+) dan ion chlor (Cl-). Ion chlor inilah yang sebenarnya berfungsi sebagai bahan pengawet, dengan menghambat pertumbuhan mikroba pada telur. Makin lama dibungkus dengan adonan, makin banyak garam yang merembes masuk ke dalamnya, sehingga telur menjadi semakin awet dan asin. Lamanya telur dibungkus adonan ini harus disesuaikan dengan selera masyarakat yang akan mengonsumsinya.

Pada proses pembuatan telur asin terjadi pertukaran ion yang bersifat stokiometri, yakni satu H+ diganti oleh suatu Na+.  Pertukaran ion adalah suatu proses kesetimbangan dan jarang berlangsung lengkap . (Underwood, 2001). Ion Na didapatkan dari garam sedangkan ion H+ berasal dari air . Dengan demikian, ion Na masuk kedalam telur dan kadar air berkurang, akibatnya telur menjadi asin.

Perbandingan Penggunaan Tanah Liat/Serbuk Bata Merah sebagai Bahan Adonan Pengasin

Penggunaan serbuk bata merah yang biasanya terbuat dari tanah liat penggunaannya lebih efektif dalam proses pengasinan telur ayam maupun telur bebek jika dibandingkan dengan penggunaan abu gosok. Hal ini terkait dengan sifat dari bata tersebut. Bata merah lebih mudah menyerap air, hal ini menguntungkan karena serbuk bata merah yang dibalutkan ke telur dapat membantu menyerap air yang keluar dari telur. Semakin sedikit kandungan air pada telur tersebut biasanya akan membuat telur lebih awet. Selain itu, serbuk bata merah juga lebih efektif menahan kandungan garam sehingga ketika air adonan serbuk bata mulai menguap, kandungan garam tetap berada di bata dan dapat terus terserap oleh telur yang dibalut.

telur-asin telor-asin-2

 

 

Dafrat Pustaka

Anonimus  2007. Tips Mengolah Telur. http://www.google.com. Diakses pada 04 Desember 2016.

Anonimus,2015. http://mbahdegan.blogspot.co.id/2015/10/laporan-praktikum-es-puter-kimia.html

Anonimus,2013. http://izzahfahma.blogspot.co.id/2013/10/penerapan-sifat-koligatif-pada.html

Anonimus,2011. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/11/di-balik-tradisi-memandikan-pusaka-di-bulan-sura

Kastaman, Roni; Susdaryanto dan Nopianto, Budi H. 2005. Kajian Proses Pengasinan Telur Metode Reverse Osmosis  Pada Berbagai Lama Perendaman. Jurnal Teknik Industri Pertanian 19 (1) :30-39

Kautsar I. 2005. Pengaruh Lama Perendaman dalam Larutan Asam Asetat 7% dan Lama Perendaman Terhadap Beberapa Karakteristik Telur Asin.[Skripsi]. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor.

Sukendra L. 1976. Pengaruh cara pengasinan telur bebek (Muscovy sp) dengan Menggunakan Adonan Campuran Garam dan Bata Terhadap Mutu Telur Asin Selama Penyimpanan. [Skripsi].           Fakultas           Mekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian-IPB, Bogor.

Underwood, A.L., dan Day R. A. 2001. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *